Kontribusi Sektor Manufaktur Terhadap Perekonomian Nasional
Sektor manufaktur menjadi salah satu sektor utama dalam upaya pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Berdasarkan data yang dirilis, kontribusi sektor ini terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 19,07% pada tahun 2025. Angka ini menunjukkan peningkatan dari tahun sebelumnya, yaitu 18,98% pada 2024 dan 18,67% pada 2023.
Selain itu, pertumbuhan sektor manufaktur juga lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan. Pada tahun 2025, sektor manufaktur tumbuh sebesar 5,4% secara tahunan (year on year/YoY), sedangkan pertumbuhan ekonomi nasional hanya mencapai 5,11% YoY. Hal ini menunjukkan bahwa sektor manufaktur mampu melebihi pertumbuhan ekonomi nasional, yang menjadi indikasi positif bagi stabilitas perekonomian.
Dari sisi tenaga kerja, sektor manufaktur telah berhasil menyerap 20,31 juta lapangan kerja, atau sekitar 13,86% dari total tenaga kerja nasional. Ini menunjukkan bahwa sektor ini tidak hanya berkontribusi pada PDB, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap pengangkatan tenaga kerja di Indonesia.
Indikator Kinerja Sektor Manufaktur
Salah satu indikator kinerja sektor manufaktur adalah Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur. PMI manufaktur Indonesia berada di jalur ekspansi selama delapan bulan berturut-turut. Pada Februari 2026, PMI manufaktur naik ke level 53,8 dari sebelumnya 52,6. Angka ini menunjukkan bahwa sektor manufaktur masih dalam kondisi stabil dan berkembang.
Namun, sektor manufaktur Indonesia saat ini menghadapi tantangan akibat dinamika geopolitik global. Konflik di Timur Tengah, termasuk perang antara Iran dengan AS dan Israel, telah mengganggu rantai pasok global. Selain itu, harga bahan baku, suku bunga, dan nilai tukar yang fluktuatif juga memengaruhi operasional industri. Biaya logistik pun meningkat, sehingga berdampak pada biaya produksi.
Dari sisi permintaan, kondisi geopolitik yang tidak stabil juga memengaruhi daya beli masyarakat serta pasar ekspor. Penurunan permintaan global menjadi ancaman bagi sektor manufaktur. Oleh karena itu, diperlukan antisipasi terhadap skenario terburuk di masa depan.
Langkah Pemerintah dalam Mendukung Sektor Manufaktur
Untuk menghadapi tantangan tersebut, pemerintah telah melakukan beberapa langkah strategis. Salah satunya adalah membentuk Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi (Satgas P3-MPPE). Dalam satuan tugas ini, pemerintah telah membahas solusi atas dampak gejolak geopolitik terhadap bahan baku plastik dan LPG. Jika situasi geopolitik terus berkepanjangan, diperlukan langkah-langkah tambahan.
Selain itu, pemerintah juga melakukan sinergi antara Kementerian/Lembaga serta pelaku usaha. Dukungan insentif fiskal, deregulasi, kemudahan, dan debottlenecking juga dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan sektor manufaktur.
Target Pemerintah untuk Visi Indonesia Emas 2045
Pemerintah memiliki target ambisius untuk meningkatkan kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB hingga 28% pada tahun 2045, sesuai Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045. Untuk mencapai target ini, Presiden RI Prabowo Subianto menggenjot hilirisasi industri.
Pada hari Rabu (29/4/2026), Prabowo melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) untuk 13 proyek hilirisasi tahap II. Proyek-proyek ini mencakup pengembangan sektor pengolahan dan pemurnian yang terintegrasi, seperti peningkatan kapasitas refinery, pengembangan produk turunan bernilai tambah, serta pembangunan fasilitas pendukung yang memperkuat rantai pasok industri nasional.
Peluang Pengembangan Sektor Manufaktur
Berdasarkan data 2025, pertumbuhan industri pengolahan tertinggi terjadi di segmen usaha perlengkapan dan industri logam. Sementara itu, beberapa segmen lain seperti karet, tembakau, dan industri alat angkut mengalami kontraksi.
Advisory Board Komunitas Teknik Industri ITB Warih Andang Tjahjono menyarankan agar Indonesia dapat mencontoh negara-negara dengan industri manufaktur maju seperti Jepang, Korea Selatan, China, dan Jerman. Di Jepang, kontribusi manufaktur terhadap PDB mencapai 29%-35%, didorong oleh peran Ministry of International Trade and Industry (MITI). Di China, kontribusi sektor manufaktur mencapai 28%-33%, didorong oleh Special Economic Zones (SEZ) China. Di Korea Selatan, kontribusi sektor manufaktur mencapai 27%-30%, didorong oleh peran Chaebol. Di Jerman, kontribusi manufaktur mencapai 30%-42%, didorong oleh Mittelstand serta high tech industry.
Rekomendasi untuk Mencapai Target 28% PDB
Warih Andang Tjahjono memberikan rekomendasi lima langkah penting untuk mencapai target kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB sebesar 28% pada 2045:
- Konsistensi kebijakan pemerintah yang pro investasi dan konsisten untuk pengembangan sektor prioritas nasional.
- Membangun iklim investasi yang kondusif didasari regulasi yang transparan dan kepastian hukum yang adil bagi seluruh pelaku usaha.
- Dukungan finansial berupa insentif fiskal yang tepat sasaran.
- Peningkatan infrastruktur, termasuk pasokan energi yang andal untuk mendukung daya saing industri.
- Peningkatan kualitas SDM melalui pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia.
