KPU Karangasem Ajak Siswa SMPN 1 Manggis Belajar Literasi Politik
Sebanyak 246 siswa kelas IX di SMPN 1 Manggis berkesempatan mengikuti diskusi menarik dengan KPU Karangasem pada Selasa, 28 April 2026. Acara ini menjadi momen penting dalam memperkenalkan dunia politik kepada generasi muda yang akan menjadi pemilih utama pada Pemilu 2029.
Diskusi tersebut berlangsung secara dua arah, di mana siswa aktif bertanya dan menyampaikan pandangan mereka. Mereka bahkan menyentuh isu-isu yang sering dihadapi sehari-hari, seperti banjir informasi di media sosial hingga praktik politik uang yang masih marak terjadi.
Ketua Divisi Sosialisasi Pendidikan Pemilih KPU Karangasem, I Kadek Sukara, menekankan bahwa kelompok pemilih pemula memiliki peran penting dalam menentukan hasil pemilu. Namun, ia juga menyoroti bahwa jumlah besar saja tidak cukup tanpa kualitas pilihan yang matang.
“Anak muda sering terjebak dengan berita hoaks, informasi mengenai calon juga harus di filter dengan baik,” tegas Sukara. Menurutnya, literasi informasi sangat penting untuk membantu para pemilih muda memahami dan memilih calon yang tepat.
Dalam sesi diskusi, siswa diajak membedah cara sederhana mengenali informasi menyesatkan. Beberapa langkah yang disampaikan antara lain mengecek sumber berita, memahami pola propaganda di media sosial, serta memperhatikan konteks informasi yang diberikan.
Sukara juga menegaskan bahwa politik uang masih menjadi ancaman serius yang kerap menyasar pemilih muda. Hal ini karena remaja dianggap belum memiliki pengalaman politik yang kuat, sehingga rentan terpengaruh oleh tawaran-tawaran yang tidak jelas.
Alih-alih hanya memberikan materi teoritis, KPU Karangasem lebih mendorong siswa untuk berlatih berpikir kritis. Mereka diajarkan bagaimana membandingkan visi-misi calon, menelusuri rekam jejak, hingga memahami dampak pilihan mereka dalam jangka panjang. Pendekatan ini dinilai lebih relevan dibanding sekadar ceramah normatif.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Ni Komang Sri Andayani, mengakui bahwa sebagian besar siswa memang belum memiliki gambaran utuh tentang proses pemilu. “Mereka bukan tidak peduli, tapi belum paham. Dengan pendekatan seperti ini, mereka jadi lebih siap ketika pertama kali datang ke TPS,” katanya.
Ia juga menyoroti psikologis remaja yang masih mudah berubah. Oleh karena itu, pembekalan sejak dini dianggap penting agar mereka tidak sekadar ikut arus saat momentum politik tiba. Dengan pengetahuan yang cukup, siswa diharapkan dapat membuat pilihan yang bijak dan bertanggung jawab.
