Kinerja Sektor Perikanan Budi Daya di Kebumen Menggembirakan
Kawasan Budidaya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) yang dibangun oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Kebumen, Jawa Tengah, kembali menunjukkan kinerja yang mengesankan. Dalam siklus produksi kedelapan, BUBK ini berhasil mencatatkan panen lanjutan sebanyak 46 ton udang vaname. Angka ini berasal dari 32 petakan tambak yang dilakukan panen parsial.
Panen kali ini menjadi salah satu indikator penting dalam upaya penguatan industri udang nasional yang modern dan berkelanjutan. Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP Tb Haeru Rahayu atau dikenal dengan panggilan Tebe menyampaikan bahwa capaian tersebut membuktikan bahwa sistem budi daya yang dijalankan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Salah satu faktor penunjang keberhasilan adalah pengelolaan lingkungan melalui instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
“Alhamdulillah, produksi terus meningkat dan kualitas udang sangat baik. Ini bukti bahwa sistem budi daya yang dijalankan sudah sesuai standar, termasuk pengelolaan lingkungan melalui IPAL,” ujar Tebe dalam siaran pers yang diterima.
Tebe juga turut serta meninjau langsung kegiatan panen di Desa Tegalretno, Kecamatan Petanahan, pada Jumat (1/5/2026). Ia memberikan apresiasi atas capaian tersebut sekaligus memastikan bahwa penerapan standar Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) berjalan optimal.
Secara bertahap, produksi BUBK Kebumen menunjukkan tren positif. Dari total 139 kolam, seluruhnya saat ini beroperasi aktif. Memasuki siklus kedelapan, panen parsial telah dilakukan sebanyak tiga kali, masing-masing sebesar 12 ton, 15 ton, dan meningkat menjadi 19 ton. Secara akumulatif, total produksi sementara mencapai 46 ton dari 32 petak tambak, dengan ukuran udang berkisar antara 35–40.
Tidak hanya dari segi kuantitas, kualitas udang juga dinilai unggul dan memenuhi standar pasar. Hal tersebut bahkan menarik minat pembeli yang datang langsung ke lokasi. Kondisi ini menjadi indikator kuat keberhasilan sistem budi daya yang efisien dan terkontrol. Penerapan teknologi serta pengelolaan kawasan secara terpadu turut mendukung capaian tersebut.
Penanggung jawab teknis BUBK Kebumen Iwan Sumantri menjelaskan, pengelolaan lingkungan menjadi prioritas utama dalam operasional tambak. Komitmen tersebut diwujudkan melalui sistem IPAL yang berjalan optimal.
“Sistem IPAL berjalan dengan baik. Indikatornya terlihat dari kualitas air yang tetap terjaga dan tidak menimbulkan dampak bagi lingkungan. Ini menjadi komitmen kami agar budi daya tetap produktif sekaligus berkelanjutan,” jelas Iwan.
Ia menambahkan, seluruh proses mulai dari intake, tandon, hingga on-farm dan IPAL dijalankan sesuai standar operasional. Penerapan tersebut bertujuan memastikan keberlanjutan produksi dan keamanan lingkungan.
Selain sebagai pusat produksi, BUBK Kebumen juga berperan sebagai pusat pembelajaran bagi pembudi daya. Kehadirannya mendorong transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), serta membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.
Salah satu petambak lokal, Andes Wahyabremudho, mengaku merasakan manfaat langsung dari keberadaan BUBK. Selain peningkatan pengetahuan teknis, kolaborasi antarpetambak juga semakin kuat dan produktivitas usaha meningkat signifikan.
“Dengan adanya BUBK, kami bisa banyak belajar dari sisi teknis. Ilmu baru, sharing dengan tim teknis, sampai peningkatan kualitas budi daya sangat terasa. Dampak positifnya jauh lebih banyak,” ungkap Andes.
Andes menambahkan, keberadaan kawasan tersebut juga membuka peluang kolaborasi antarpetambak. Hal itu sekaligus mendorong peningkatan hasil produksi secara berkelanjutan.
Dalam upaya menjawab peluang pasar global, KKP melahirkan sejumlah program peningkatan produktivitas pembudidaya. Salah satunya adalah modeling budi daya udang berbasis kawasan yang proses produksinya mengedepankan teknologi dan ramah lingkungan. Dengan demikian, industri udang nasional dapat terus tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan.
