Rupiah Kembali Terpuruk di Tengah Tekanan Global dan Internal

Nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian utama setelah mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa hari terakhir. Pergerakan rupiah tercatat masih berada di level tinggi sekitar Rp17.300 hingga Rp17.346 per dolar AS, menunjukkan kondisi pelemahan yang cukup konsisten di pasar global.

Pada perdagangan Jumat (1/5/2026), rupiah sempat menguat tipis sekitar 0,25 persen di pasar spot menjadi Rp17.303 per dolar AS. Namun, penguatan tersebut dinilai belum cukup kuat untuk membalikkan tren pelemahan yang terjadi sejak akhir April 2026. Penguatan sementara ini juga terjadi seiring dengan pergerakan sejumlah mata uang Asia yang turut menguat terhadap dolar AS, seperti peso Filipina, won Korea Selatan, dan yuan China.

Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Rupiah

Menurut Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, pelemahan rupiah dipicu oleh faktor eksternal, terutama penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia. Indeks dolar AS yang menguat membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berada dalam tekanan. Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia juga menjadi faktor penting karena Indonesia merupakan negara pengimpor minyak.

Harga minyak mentah jenis Brent crude oil sempat berada di kisaran US$ 111–112 per barel, dipicu ketegangan geopolitik menyusul rencana blokade laut yang lebih panjang di kawasan Selat Hormuz. Tekanan terhadap rupiah berlanjut seiring penguatan indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) ke level sekitar 98. Di saat yang sama, harga minyak terus meningkat, memperkuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

Faktor Domestik yang Menambah Tekanan

Selain faktor global, tekanan dari dalam negeri juga memperburuk kondisi rupiah. Meningkatnya permintaan dolar untuk impor, pembayaran dividen, serta biaya logistik membuat tekanan terhadap mata uang Garuda semakin besar. “Permintaan dolar di dalam negeri meningkat untuk pembayaran impor, repatriasi dividen, dan ongkos pengiriman yang lebih mahal,” kata Josua.

Secara keseluruhan, pelemahan rupiah disebabkan oleh kombinasi faktor eksternal dan internal, mulai dari penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, kebijakan suku bunga The Fed, hingga tekanan permintaan valuta asing di dalam negeri. Kondisi ini membuat rupiah masih rentan terhadap fluktuasi dalam jangka pendek.

Rincian Pergerakan Mata Uang Terhadap Dolar AS

Berikut rincian pergerakan mata uang terhadap dolar AS pada akhir perdagangan, Jumat (1/5/2026):

  • Peso Filipina: Menguat 0,31 persen
  • Rupiah Indonesia: Menguat 0,25 persen
  • Won Korea Selatan: Menguat 0,24 persen
  • Yuan China: Menguat 0,16 persen
  • Baht Thailand: Menguat 0,04 persen
  • Dolar Singapura: Menguat 0,03 persen
  • Ringgit Malaysia: Menguat 0,02 persen

Namun, sejumlah mata uang justru mengalami pelemahan, di antaranya:

  • Yen Jepang: Melemah 0,36 persen
  • Dolar Taiwan: Melemah 0,31 persen
  • Dolar Hongkong: Melemah 0,05 persen
  • Dolar Hongkong: Melemah 0,01 persen.

By Adam Nugraha W

H. Adam Nugraha Wiradhana, S.AB adalah Pemimpin Redaksi SuaraPembaruan.com serta Ketua SMSI Banjarmasin. Ia aktif sebagai jurnalis dan bagian dari jajaran redaksi, dengan fokus pada penguatan kualitas pemberitaan serta pengembangan ekosistem pers digital yang profesional, independen, dan berkelanjutan di Indonesia.