PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) telah merancang strategi khusus untuk menjaga keberlanjutan tenaga kerja di tengah tantangan ekonomi global yang semakin mengkhawatirkan, termasuk dampak dari konflik di kawasan Timur Tengah terhadap industri baja. Perusahaan menegaskan bahwa pemutusan hubungan kerja (PHK) akan menjadi pilihan terakhir yang diambil dalam situasi ketidakpastian saat ini.
Corporate Secretary Krakatau Steel, Fedaus, menyampaikan bahwa perusahaan lebih memilih langkah efisiensi berbasis redistribusi tenaga kerja antarunit bisnis daripada melakukan pengurangan jumlah karyawan secara langsung. Ia menjelaskan bahwa pekerja dari unit yang tidak lagi optimal dapat dialihkan ke lini usaha lain yang masih membutuhkan tenaga kerja. Strategi ini dinilai lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
“PHK itu adalah opsi yang sangat terakhir yang kita lakukan. Kalau kita bisa efisiensikan, bisa kita transport ke departemen lain,” ujar Fedaus beberapa waktu lalu.
Fedaus juga menekankan bahwa jika langkah efisiensi tetap diperlukan, KRAS akan melakukannya dengan hati-hati dan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan ketenagakerjaan yang berlaku. Hal ini dilakukan untuk memastikan hak dan perlindungan karyawan tetap terjaga.
Selain itu, KRAS sedang berupaya memperbaiki kinerja dan stabilisasi operasionalnya dengan dukungan dana dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Perseroan baru saja ikut serta dalam simbolisasi peletakan batu pertama (groundbreaking) untuk proyek hilirisasi baja terintegrasi pada 29 April 2026 di Cilacap, Jawa Tengah.
KRAS juga sedang mengharmonisasi dua proyek investasi yang berlokasi di Cilegon dan Morowali. Proyek pertama adalah pembangunan fasilitas produksi slab baja karbon dengan kapasitas 1,5 juta ton per tahun, dengan investasi sebesar US$200 juta. Sementara itu, proyek kedua, yang berada di bawah koordinasi Danantara, adalah fasilitas produksi slab stainless steel dengan kapasitas 1,2 juta ton per tahun dan investasi sebesar US$320 juta.
Fedaus menjelaskan bahwa setiap pembangunan pabrik baru pasti akan membuka peluang kerja baru. Secara umum, proyek tersebut membutuhkan sekitar 900 hingga 1.100 tenaga kerja, baik dari internal maupun eksternal perusahaan. Semua penyesuaian dilakukan berdasarkan kebutuhan dan mempertimbangkan peralatan yang tersedia.
Selain fokus pada serapan tenaga kerja, Krakatau Steel juga berkomitmen untuk meningkatkan kompetensi karyawan. Perusahaan telah menyiapkan berbagai program pelatihan guna mendukung modernisasi peralatan dan kesiapan menghadapi potensi masuknya investor baru. “Kita akan upgrade skill,” tambahnya.
Ke depan, KRAS menilai bahwa tenaga kerja industri baja harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, seperti digitalisasi, kecerdasan buatan, dan sistem otomasi. Dengan demikian, perusahaan siap menghadapi transformasi industri yang semakin cepat dan dinamis.
