Peran Industri Manufaktur dalam Perekonomian Nasional
Industri manufaktur memainkan peran penting dalam perekonomian suatu negara, terutama bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia. Hampir seluruh negara ekonomi maju bergantung pada sektor ini untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Tanpa industri manufaktur, risiko kehancuran ekonomi menjadi sangat tinggi.
Contoh sederhana adalah industri alas kaki. Setiap orang membutuhkan sedikitnya satu pasang sepatu, atau bahkan lebih. Dengan populasi yang mencapai lebih dari 200 juta jiwa, permintaan akan sepatu sangat besar. Untuk membeli sepatu, seseorang harus memiliki penghasilan, yang berasal dari berbagai lapangan pekerjaan. Jika seluruh kebutuhan sepatu dipenuhi dari luar negeri, hanya sedikit rezeki yang tersisa, dan lapangan kerja hanya terbatas pada distribusi dan perdagangan.
Sebaliknya, jika industri manufaktur mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik, maka peluang kerja akan meningkat secara signifikan. Sepatu tidak hanya dikonsumsi, tetapi juga menciptakan rantai produksi yang panjang. Pembuat sepatu memerlukan bahan baku seperti kulit, benang, cat, dan lem, yang semuanya berasal dari industri lain. Hal ini menciptakan keterlibatan banyak sektor industri dalam satu produk.
Itu baru satu contoh produk fesyen. Belum lagi menghitung kebutuhan produk lain seperti otomotif, yang membutuhkan ribuan komponen. Industri berat seperti baja dan alat mesin juga terlibat dalam proses produksi. Satu tahap produksi bisa melibatkan berbagai sektor mulai dari produksi hingga distribusi dan pergudangan.
Dari konsumsi yang dipenuhi oleh manufaktur dalam negeri, tercipta peluang kerja yang luas. Konsumsi berjalan, produksi membesar, dan pertumbuhan ekonomi serta pendapatan meningkat. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan bukanlah hal yang sulit dicapai, asalkan manufaktur diperkuat dari akar.
Sektor jasa dan perdagangan pun tumbuh sebagai sulur merambat ke mana-mana. Khususnya bagi Indonesia, dengan jumlah populasi yang besar, cukup jika konsumsi domestik dipenuhi oleh produk manufaktur, maka perekonomian tidak lagi rentan terhadap ancaman luar.
Manufaktur yang kuat juga memberikan keuntungan di era perdagangan bebas saat ini. Neraca dagang yang surplus dan devisa yang tebal bisa menjadikan rupiah lebih perkasa. Oleh karena itu, Presiden Prabowo Subianto menetapkan hilirisasi dan industrialisasi dalam Asta Cita, yang bertujuan agar sektor industri menjadi salah satu penopang PDB dengan kontribusi hingga 28% pada tahun 2045.
Pemerhati Industri Warih Andang Tjahjono menyatakan bahwa sektor manufaktur adalah satu-satunya jalan untuk mengangkat perekonomian Indonesia hingga selevel negara maju. Ia menilai Indonesia memiliki segala potensi, mulai dari populasi sebagai pasar domestik, kekayaan material, hingga ekosistem industri yang telah terbentuk.
“Maka tepat Presiden Prabowo menetapkan Asta Cita salah satunya hilirisasi dan industrialisasi. Semisal saja kekayaan alam itu bisa dijadikan andalan dihilirkan sebagaimana terjadi pada biodiesel,” ujar Warih dalam Bisnis Indonesia Forum bertemakan “Indonesia Emas 2045, Industri Harus Jadi Panglima”.
Namun, dibutuhkan beberapa pembenahan untuk menjaga keberlangsungan manufaktur saat ini. Konsistensi kebijakan dan iklim investasi yang baik wajib dijaga. Selain itu, keandalan pasokan energi serta paket kebijakan finansial yang mendukung juga penting.
Tantangan dan Ancaman bagi Sektor Manufaktur
Perjalanan menuju visi Indonesia Emas 2045 bukanlah hal mudah. Tantangan belakangan ini bahkan membayang-bayangi sektor manufaktur. Perang rantai pasok antara China dan Barat, prahara di Timur-Tengah, serta adu tinggi tarif bea masuk seperti virus melemahkan daya tahan industri.
Sekretaris Kementerian Koordinator Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyatakan bahwa sektor manufaktur masih memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian. Kontribusi sektor ini terhadap PDB mencapai lebih dari 19%, di atas sektor lainnya. Artinya, nyaris seperlima nilai belanja dan produksi berasal dari aktivitas industri.
Namun, ada subsektor yang mengalami kontraksi, seperti properti, karet, dan otomotif. Susi menilai bahwa penurunan ini belum tentu menandai penurunan daya beli atau kelas menengah. Ada pergeseran prioritas, misalnya lebih memprioritaskan kesehatan dan pendidikan.
Pemerintah juga berupaya mendorong konsumsi melalui berbagai insentif, seperti bantuan sosial untuk masyarakat bawah dan diskon pajak untuk produk otomotif. Semua harapan ini diharapkan bisa menghindari penurunan struktural dalam konsumsi kelas menengah.
Kebijakan Perdagangan dan Persaingan Global
Di sisi lain, pemerintah terus berupaya memperluas akses dagang bagi produk lokal di pasar global. Negosiasi tarif dengan Amerika dan Eropa dilakukan untuk melindungi industri dalam negeri agar tetap kompetitif dibandingkan negara lain seperti Vietnam.
Namun, dalam praktiknya, berbagai kebijakan justru menambah beban industri. Pasar global terbuka, tetapi industri tidak berdaya. Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal Asosiasi Persepatuan Indonesia (Asprindo) Yoseph Billie Dosiwoda.
Ia menyatakan bahwa aturan kebebasan yang memunculkan Ormas justru menjadi premanisme. Belum lagi kebijakan upah yang belum sepadan dengan produktivitas, dan akan disusul wajib halal. Di samping itu, barang impor murah, terutama dari China, masuk secara legal maupun ilegal, mengancam industri lokal.
Masalah ini perlahan membawa maut bagi sektor manufaktur. Insentif yang diberikan dan perdagangan bebas yang diupayakan justru disedot oleh barang impor. Jika sudah demikian, roda manufaktur akan terus terganjal, sulit melaju maju, sementara Indonesia Emas 2045 sudah di depan gerbang.
