Penjualan Senjata AS ke Timur Tengah Mencapai $8,6 Miliar
Amerika Serikat (AS) telah menyetujui penjualan senjata senilai $8,6 miliar kepada sekutu-sekutunya di kawasan Timur Tengah. Keputusan ini diambil dalam tenggat waktu yang sangat singkat setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengumumkan keadaan darurat untuk mempercepat transfer tanpa melalui proses peninjauan oleh Kongres AS.
Penjualan senjata ini terjadi di tengah ketegangan antara AS-Israel dan Iran. Sejak awal perang pada akhir Februari 2026, Israel dan negara-negara Teluk telah menghadapi serangan rudal dan pesawat tak berawak atau drone dari Iran. Serangan-serangan tersebut telah menyebabkan pengurasan persediaan senjata AS serta membebani sistem pertahanan udara negara-negara tersebut.
Rincian Penjualan Senjata
Dalam penjualan senjata yang mencakup berbagai jenis alat militer, sistem senjata presisi canggih (APKWS) dan peralatan terkait akan dikirim ke Israel dengan nilai sebesar $992 juta. Sementara itu, Kuwait disetujui untuk membeli sistem komando pertempuran senilai $2,5 miliar. Qatar juga mendapat persetujuan untuk membeli APKWS dan memperbarui sistem pertahanan udara serta rudal Patriotnya dengan biaya hampir $5 miliar. Uni Emirat Arab (UEA) juga mendapatkan izin untuk membeli APKWS senilai $148 juta.
Pembelian senjata ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pemerintah AS untuk memastikan kemampuan pertahanan negara-negara sekutu dalam menghadapi ancaman dari Iran. Sistem Patriot digunakan untuk mencegat proyektil yang datang dan termasuk salah satu peralatan pertahanan tercanggih dalam persenjataan militer AS.
Kekhawatiran tentang Persediaan Senjata
Selain penjualan senjata ke kawasan Timur Tengah, penggunaan amunisi AS yang besar dalam konflik melawan Iran telah menimbulkan kekhawatiran tentang kemampuan Washington untuk menghadapi ancaman dari China jika terjadi perang memperebutkan Taiwan. Sebuah laporan yang diterbitkan oleh Center for Strategic and International Studies bulan lalu menyimpulkan bahwa AS memiliki persediaan yang cukup untuk perang melawan Iran, tetapi akan membutuhkan lebih banyak lagi untuk menghadapi musuh seperti China.
“Persediaan sebelum perang sudah tidak mencukupi; tingkat persediaan saat ini akan membatasi operasi AS jika terjadi konflik di masa depan,” kata laporan tersebut.
Perkembangan Diplomasi
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan sedang meninjau proposal 14 poin Iran untuk mengakhiri perang. Trump juga memperingatkan bahwa Washington dapat memulai kembali serangan udara jika Teheran “berperilaku buruk”. Trump mengonfirmasi bahwa ia telah diberi pengarahan tentang “konsep kesepakatan tersebut”.
Di sisi lain, Iran menyatakan bahwa mereka siap untuk berunding atau kembali ke perang terbuka, tergantung pada pilihan AS. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan bahwa Iran siap untuk kedua kemungkinan tersebut, tetapi menegaskan bahwa mereka tidak akan menerima “pemaksaan” syarat-syarat perdamaian.
Isu Pemogokan dan Harga Minyak
Trump menunjukkan sikap blak-blakan terkait kemungkinan dimulainya kembali permusuhan. Ia menyatakan bahwa jika Iran melakukan sesuatu yang buruk, ada kemungkinan serangan bisa kembali terjadi. Trump juga mengklaim bahwa AS “berkinerja sangat baik” dan Iran sangat membutuhkan penyelesaian karena negara itu telah “hancur” oleh konflik berbulan-bulan dan blokade angkatan laut.
Berita tentang usulan Iran sempat mendorong harga minyak turun hampir lima persen, meskipun harga minyak tetap sekitar 50 persen di atas level sebelum perang di tengah penutupan Selat Hormuz yang masih berlangsung. Seorang perwira militer senior Iran mengatakan bahwa pertempuran yang kembali terjadi antara AS dan Iran “kemungkinan besar” akan terjadi, beberapa jam setelah Presiden Donald Trump menyatakan ketidakpuasan terhadap proposal negosiasi baru dari Iran.
